Untuk Apa Ujian?

PROFILE PONDOK MODERN AL-BAROKAH NGANJUK JAWA TIMUR INDONESIA

Santri Pondok Pesantren menghadapi Ujian Tulis di Aula Pondok Al-Barokah

Seringkali kita mempertanyakan dalam hidup kita mengapa ada ujian? Untuk apa sih ujian? Kenapa saya diuji?”

atau mungkin sesekali kita hampir putus asa bahkan benci dengan ujian yang selalu datang silih berganti bagai lingkaran hidup yang tiada berujung. Maka perlu adanya pemahaman yang dalam serta devinisi yang tepat tentang ujian sehingga kita dapat mengarahkan pola fikir kita ke arah yang lebih positif dalam menyikapi berbagai macam ujian yang kita hadapi dalam hidup. Karena memang sudah seyogyanya manusia hidup dihadapkan dengan bermacam hal dan ujian.

Mengapa ada ujian?

Seperti yang sudah kita paparkan sebelumnya bahwa manusia hidup akan selalu menemui ujian. Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi ini. Jadi sudah menjadi lumrahnya bahwasanya seorang pemimpin (manusia) harus diuji kemampuannya dalam memimpin dan menjadi khalifah di muka bumi ini. Dengan ini pun Allah SWT sudah menciptakan manusia dengan sempurna dibarengi pula dengan ujian-ujian yang berkenaan dengan kesempurnaannya tersebut. Maka sudah jelas kiranya mengapa ada ujian?, tidak lain dan tidak bukan karena kita-lah manusia, kita adalah khalifah, kita adalah pemimpin, kita adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna di antara makhluk yang lain.

 Untuk apa ujian?

Sebagai manusia yang berakal, tentunya akal kita akan selalu menelisik apa gunanya, apa untungnya, apa faedahnya ujian itu. Maka lagi-lagi kita harus bisa mengawal akal kita ke arah dan tujuan yang seharusnya. Untuk menghindari akal yang tersesat, atau dalam istilah kita gagal faham.

Dalam sebuah permainan “game” sering kita jumpai tingkatan-tingkatan, level, atau stage-stage tertentu yang harus kita lewati atau ditamatkan untuk menuju kepada level yang selanjutnya. Coba kita tarik sedikit poin di atas dan kita inputkan atau kita hadirkan dalam kehidupan kita. Itulah miniatur  atau gambaran kita hidup di dunia ini. Ada bermacam-macam level dan tingkatan yang harus kita lalui. Sama halnya seperti di dalam game, semakin banyak kita bisa melalui level maka semakin hebat pula kemampuan karakter game yang kita mainkan. Begitupun dalam kehidupan nyata, semakin banyak ujian yang kita lalui maka akan menambah wawasan, pengetahuan, kemampuan, kebijaksanaan, kedewasaan, dan semua perkembangan-perkembangan lain yang positif dalam diri kita. Demikan kita harus mengarahkan akal kita kepada jawaban yang tepat mengenai untuk apa ujian itu.

Kenapa saya diuji?

Sebuah pertanyaan yang lebih spesivik, lebih khusus, dan runcing serta mengarah pada satu individu yaitu SAYA. Ini adalah sebuah pertanyaan muhasabah, dimana kita harus merenungi apa yang ada dan telah terjadi pada diri kita sendiri. Lagi-lagi kita harus bisa mendewasakan akal dan fikiran kita untuk bisa melihat kekurangan dan keburukan tidak hanya pada orang lain (subjective) melainkan yang ada pada diri kita sendiri. Kita harus bertanya pada diri kita sendiri “apakah saya diuji ini karena saya melakukan sebuah dosa atau keburukan, ataukah memang karena saya akan dididik dengan ujian ini supaya saya lebih dewasa lagi?” pertanyaan-pertanyaan itu akan ditujukan kepada diri kita sendiri, dan kita sendiri yang harus mencari jawabannya, karena sejatinya yang mampu menjawabnya hanyalah kita sendiri. Disinilah proses pendewasaan itu muncul. Kita akan mengoreksi dan menimbang serta mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita sendiri. Dengan begitu kita akan lebih dewasa lagi dan memiliki bekal yang lebih siap untuk menghadapi hidup serta ujian-ujian lain yang sudah menanti kita.

Jadi, apapun ujian yang akan kita hadapi kelak, jangan pernah membenci, berburuk sangka, atau bahkan lari dari ujian tersebut. Allah SWT memberikan itu semua, merancang itu semua untuk mendidik kita menjadi pribadi yang lebih mampu dan lebih kuat mengemban amanah sebagai seorang khalifah fil ardh. Selalu berfikir positif dan optimis, selalu berprasangka baik kepada Allah SWT. Minallah, ma’allah, ilallaah, lillaahi ta’ala. Usiikum wa iyyaya nafsi bitqwallaah.

About Pondok Modern Al-Barokah Nganjuk 133 Articles
BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*